Pasangan Suami Istri Ditangkap Polisi Terkait Kasus Perdagangan Manusia

News567 Dilihat

rizkysmg – Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Kota berhasil mengungkap kasus perdagangan manusia yang melibatkan pasangan suami istri dengan inisial KW dan VS. Pasangan ini diamankan pada bulan Juli 2023 di rumah mereka yang terletak di Jl Bima Asih 3B, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.

Menurut laporan, pasangan KW dan VS diduga melakukan perdagangan manusia dengan modus yang sangat merugikan korban yang berinisial YAP, yang baru berusia 17 tahun. Mereka berjanji kepada YAP bahwa ia akan bekerja sebagai pemandu lagu atau Lady Campunion (LC), namun kenyataannya, YAP dimanfaatkan untuk kegiatan open BO (booking out) yang melibatkan hubungan seksual.

“Awal kejadian adalah orang tua korban yang melaporkan kasus ini kepada kami. Korban dijanjikan pekerjaan, tetapi malah dijadikan alat untuk keuntungan pribadi oleh tersangka KW dan VS, yang notabene adalah suami istri,” ungkap Erna Ruswing Andari, dalam keterangannya

Erna juga menjelaskan peran masing-masing tersangka dalam kasus ini. Suami, VS, bertugas mempromosikan korban melalui media sosial aplikasi Michat, sementara istri, KW, mengumpulkan uang dari hasil kegiatan open BO yang melibatkan korban. Uang dari para tamu yang berkunjung diberikan kepada KW sebagai upah.

Korban memberikan tarif sebesar Rp 250 ribu hingga Rp 700 ribu per tamu, dan dalam satu hari, ia melayani hingga tujuh orang tamu. Selama periode Juli hingga Agustus 2023, korban tinggal bersama pasangan tersangka di sebuah rumah kontrakan, dan ia selalu diawasi dengan ketat sehingga tidak bisa pergi begitu saja.

Korban juga mengungkapkan bahwa ia sering mendapatkan ancaman dari pasangan tersangka jika berusaha melarikan diri. “Setiap kali saya mencoba untuk pulang, mereka selalu mengikuti saya dan mengancam agar saya kembali ke kontrakan,” kata korban.

Setelah melakukan penyelidikan, polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti, termasuk akta kelahiran korban, pakaian korban, buku catatan, kondom bekas pakai, dua handphone, dan uang senilai Rp 1 juta.

Kini, kedua pelaku akan dihadapkan pada hukum dengan dikenakan pasal 88 bersamaan dengan pasal 76i Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Mereka berdua menghadapi ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun atau denda maksimal Rp 200 juta.

Kasus ini menunjukkan pentingnya pencegahan dan penegakan hukum terhadap perdagangan manusia yang merugikan individu dan mengancam hak asasi manusia. Polisi terus mengimbau masyarakat untuk melaporkan segala bentuk kejahatan serupa demi melindungi korban yang rentan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *