Rektor Unair Tanggapi Kritik Guru Besar Terkait Pemilu 2024

News868 Dilihat

rizkysmg.com  Sivitas akademika dari berbagai kampus, khususnya para guru besar di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, belakangan ini mengkritisi kondisi demokrasi di Indonesia. Prof Dr Mohammad Nasih, Rektor Unair, memberikan respons terhadap kritikan tersebut dalam sebuah acara bertema #DemiIndonesia Cerdas Memilih yang diselenggarakan pada Selasa, 6 Februari 2024.

Sikap Unair Terkait Kritikan Guru Besar

Seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan kepada Prof Nasih mengenai pandangan Unair terhadap kritikan sivitas akademika dan guru besar yang mengatasnamakan universitas dalam kegiatan ‘Unair Memanggil’. Prof Nasih menegaskan bahwa pada dasarnya, institusi pendidikan di Indonesia tidak mengeluarkan pernyataan terkait politik, kecuali bila dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi dan organ-organ resmi.

Pernyataan Sikap ‘Unair Memanggil’ dan Tanggapan Rektor

Prof Nasih menegaskan bahwa pandangan guru besar tidak selalu merepresentasikan institusi pendidikan secara keseluruhan. Meskipun pada Senin, 5 Februari 2024, ada pernyataan sikap ‘Unair Memanggil’ dengan nama dan logo Unair, Rektor menjelaskan bahwa itu dilakukan oleh individu tertentu dan tidak mencerminkan seluruh guru besar Unair.

Menurut Prof Nasih, dari 300 guru besar di Unair, hanya sebagian kecil yang bersuara. Oleh karena itu, ia meminta agar suara-suara tersebut tidak digeneralisasi sebagai sikap resmi institusi pendidikan. Rektor menekankan bahwa dalam hal kritikan terhadap pemilu, institusi pendidikan seharusnya bersikap netral.

Memilah Suara Individu dan Suara Institusi

Prof Nasih mengakui bahwa guru besar di FISIP dan Fakultas Hukum Unair sangat sedikit yang memberikan komentar terkait pemilu. Ia mengajak masyarakat untuk memilah mana suara individu dan mana suara institusi, karena menurutnya, lebih banyak guru besar yang memilih untuk tidak bersuara daripada yang bersuara.

Guru Besar Sebagai Pilar Kebijaksanaan

Dalam menyikapi pernyataan guru besar yang kontroversial, Prof Nasih menekankan bahwa jiwa seorang guru besar seharusnya tidak sampai pada tindakan mendiskreditkan atau melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Guru besar di Unair dianggap sebagai sosok yang bijaksana dan memiliki integritas tinggi.

Rektor Nasih menyarankan agar jika ada pernyataan yang bersifat mendiskreditkan, masyarakat sebaiknya melewatinya. Ia menekankan bahwa guru besar seharusnya memberikan penerangan dan pandangan yang konstruktif tanpa merugikan individu tertentu.

Dorongan untuk Perbaikan di Perguruan Tinggi

Prof Nasih berpendapat bahwa kejadian serupa terjadi di berbagai perguruan tinggi, menunjukkan adanya beragam ide dan pendapat. Namun, ia mengingatkan agar tidak lupa bahwa ada ide dan pandangan lain yang juga memiliki hak untuk muncul dan didengar.

Dengan respons ini, Rektor Unair berharap dapat menciptakan pemahaman yang lebih baik di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum terkait peran guru besar dan institusi pendidikan dalam menyikapi situasi politik menjelang pemilu. Dengan bijak, Prof Nasih merangkum bahwa guru besar seharusnya hadir untuk memberikan perbaikan tanpa merugikan pihak lain, dan hal tersebut menjadi fokus utama di lingkungan perguruan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *